Langsung ke konten utama

Kisah Duka di Desember




/05/12/2018
Subuh saya terbangun tidak dengan ucapan doa "Alhamdulillahilladzi ahyana ba'dama amatana wa ilaihinnusyur," melainkan dengan kalimat Innalillah, Astghfirullah, diiringi perasaan gelisah tiada henti. Musibah kembali menimpa diri ini untuk menambah keimanan kepada Allah. Lagi-lagi kemalingan.
Sudah menjadi kebiasaan, sebenarnya ini tidak baik. Bangun tidur saya biasanya selalu mencheck smartphone yang saya punya. Utama adalah melihat jam dan selanjutnya memeriksa pesan masuk yang dikirimkan teman-teman di Whatsapp. Saya bergegas mendapati pintu kamar indekos yang sudah ternganga. dilihat keadaannya seperti makhluk yang sudah diperkosa. Artinya, bagian engsel pengunci sudah koyak. Sudah pasti si maling mendobraknya dengan kuat. Selain itu buku-buku ikut berserakan hingga ke pintu. di depan pintu sebuah dompet kosong tergeletak dalam kondisi terbuka dan kosong. Sebenarnya, Dompet tersebut memanglah kosong mulanya. Jadi, tidak ada kerugian dari sana.Magrib tadi, seorang yang saya sapa ustadz berpesan"Segala sesuatu yang terlepas dari kita, baik itu berbelanja, memberi, atau kehilangan. Anggap saja itu sedekah. Ikhlaskan. Sebab, apabila kita terlalu memikirkannya, hal itu akan berdampak buruk kepada kita. Kita sibuk memikirkan sesuatu yang sudah tidak milik kita, pikiran kita kacau, bisa berakibat stress. Ujung-ujungnya, syetan akan mengendalikan kita. Membuat kita berpikir dan melakukan hal buruk.Ditambah, berdoalah, semoga Allah memberika sesuatu yang lebih baik di kemudiannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUCOBA LEWATI

By : Muhammad David angin senja menemani langkahku meninggalkan siang nan cerah sore nan kelabu menantang dinginnya malam bertabur bintang ditemani sang bulan kini ku bersandar di atas kursi tua yang lapuk dimakan usia namun tetap kokoh menopang diriku ku bercerita padanya tentang indahnya siangku tentang hidupku namun dia hanya tersenyum melirik sinis padaku

Untuk Guru-guruku.. By: M.david.-

Penipu

Dunia ini penipu. Begitu juga isinya. Banyak sekali manusia yang suka membuat fatamorgana guna menyenangkan pemirsanya. Tanpa sadar dia sendiri yang tengah ditipu oleh fatamorgana yang ia buat. Terlihat bahagia di hadapan publik. Membuat lelucuan sehingga orang tertawa terpingkal-pingkal. Sebenarnya, ia yang membuat lelucuan tengah berduka dengan ragam masalah yang ia hadapi. Bertengkar dengan teman misalnya, saling diam dengan saudara, berselisih paham dengan orang tua.